Relationship

Membangun Komunikasi Produktif Dengan Anak

Hai, Sobat Pengisah happy weekend yaa.

Ada kegiatan apa, nih di weekend ini? Mimin sih di rumah aja karena mau jalan-jalan nyoba MRT belum dapat restu dari Suami. Ciyeeeee Syahreino kali. Hihihi

Biasanya nih Sobat, kita berupaya agar setiap hubungan yang ada dapat terjalin dengan baik. Baik itu hubungan dengan teman, sahabat, pasangan, maupun anak. Nah, salah satu cara agar hubungan baik tetap terjaga adalah dengan membangun komunikasi produktif.

Definisi Komunikasi Produktif

Komunikasi adalah cara penyampaian pesan. Komunikasi yang dilakukan disebut produktif jika pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Menurut ibu Septi Peni Wulandari Komunikasi produktif ini penting karena merupakan pilar untuk mewujudkan visi misi keluarga.

Komunikasi produktif ini dapat dilakukan dengan menggunakan kalimat-kalimat positif, terutama pada anak, ya. Orangtua dapat memberikan pujian, penghargaan, dan penjelasan bahkan larangan pada anak dengan kalimat positif yang tentunya akan memberikan respon yang berbeda ketika orangtua menggunakan kalimat negatif.

Sebagai contoh, “Nak, jangan memanjat pagar, ya, bahaya.”

Bagaimana respon anak? Mungkin ia masih saja memanjat.

Coba diganti dengan, “Nak, sini kita main dengan adik saja, yuk. Nih adik minta main Lego. Kakak kan sudah bisa menyusun legonya. Kasih tahu adik ya.”

Bagaimana respon anak? Ia akan berhenti memanjat dan menghampiri ibu serta adik untuk bermain lego.

Itulah salah satu bentuk Komunikasi produktif.

Membangun Komunikasi Produktif Dengan Anak

Ada waktu-waktu tertentu dimana kita sebagai orangtua akan lebih banyak menggunakan Komunikasi produktif ini untuk mempengaruhi anak-anak. Misalnya saja ketika kakak dan adik bertengkar, mengarahkan aktivitas tertentu maupun meredam amarah ananda.

Namun, ada timeline tertentu dimana momen besar ini membutuhkan Komunikasi produktif yang dilakukan berulang, sambil memberikan sugesti.

Momen Toilet Training

Pada masa ini perlu sekali membangun kepercayaan diri pada anak. Tanamkan pada dirinya bahwa ia mampu melakukannya dengan baik. Kegagalan di awal jadikan pemicu semangat agar terus mencoba hingga ia mampu melewatinya.

Nah, disini penting banget adanya Komunikasi produktif antara orangtua terutama ibu, dengan anak. Bangunlah Komunikasi dua arah agar anak merasa didengar dan didukung.

Sobat Pengisah bisa mencoba kalimat ini,

Kakak sekarang udah besar. Kakak bisa belajar tidak memakai pospak lagi, ya. Belajar pipis atau pup pada tempatnya. Dimana ya tempatnya? “Di kamar mandi” Betul. Nah, jika terasa ada yang mau keluar, kakak segera ke kamar mandi atau bilang ke Bunda, ya. Bunda akan bantu kakak. Semangat. Kakak pasti bisa gak ngompol di celana atau kasur lagi.

Sudah pernah mencobanya, Sobat?

Jika pun di masa-masa awal memulai terjadi Kegagalan, maklumi saja. Namanya juga masih belajar, ya kan? Wajar jika masih salah atau belum tepat. Yang penting kudu punya stok sabar yang banyak ya, Sobat.

Momen Menyapih

Momen ini akan berbeda di tiap ibu. Ada yang mudah dan cepat prosesnya namun ada pula yang memakan waktu lama serta tidak mudah.

Hal ini bisa juga bergantung pada metode yang digunakan oleh Orangtua ketika menyapih. Ada yang menggunakan metode tradisional mengikuti Orangtua zaman dulu maupun yang lagi happening saat ini yaitu metode WWL (Weaning With Love).

Nah, pada Momen Ini pun Orangtua sebaiknya membangun Komunikasi produktif dengan anak. Hal ini dilakukan agar proses Menyapih dapat dilewati dengan baik tanpa menyakiti kedua belah pihak. Menurut Mimin, metode WWL itu sudah mempraktekkan Komunikasi produktif dengan anak. Selengkapnya baca disini, ya.

Nah, sementara cukup disini dulu yaaa ulasan mengenai Komunikasi produktif dengan anak ini. Sebenarnya masih masih banyak momen-momen yang membutuhkan Komunikasi seperti ini. Hanya saja dua momen di atas adalah Momen paling besar yang amat berpengaruh bagi anak maupun Orangtua.

Jika semua Momen diulas disini semua akan menjadi panjang sekali, Sobat.

So, akan dibahas kembali di lain kesempatan, ya.

 

 

 

Ibu dua anak, suka belajar merajut frasa. Senang belajar hal-hal baru. Suka berpetualang, penjelajah dan tak bisa dikekang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *