Parenthood

Homeschooling, Efektifkah?

Hai, Sobat Pengisah apa kabar? Semoga kita semua senantiasa dalam keadaan baik dan sehat, ya. Karena Mimin pun demikian.

Kali ini Mimin kembali lagi dengan topik pembahasan yang agak berbeda. Kalau biasanya kita membahas mengenai sosok orang yang menginspirasi, menikmati puisi, dan lain sebagainya. Maka kali ini kita akan membahas mengenai homeschooling. 

Adakah di antara Sobat Pengisah sekalian yang belum familiar dengan kata homeschooling? Atau mungkin malah sudah mempraktekkannya? Nah, pada kesempatan kali ini kita bahas, yuk mengenai homeschooling ini. Apa sih homeschooling itu? Bagaimana penerapannya terhadap anak kita? Efektif enggak sih jika anak kita homeschooling aja?

Sudah mulai penasaran, belum? hihihii.

Apa sih homeschooling itu? 

Kalau dilihat secara bahasa, homeschooling berarti sekolah rumah atau sekolah di rumah. Namun banyak orang menyebutnya dengan sekolah mandiri, dimana pertanggungjawaban atas metode dan hasil pendidikan ada pada orangtua, bukan pada guru maupun tenaga pendidik lainnya.

Jadi jika di antara Sobat Pengisah ada yang berkeinginan menerapkan sistem pendidikan homeschooling  untuk ananda, maka kudu bin wajib mengerti metode apa saja yang akan diterapkan, siapa yang akan menjadi guru atau pendampingnya, berapa lama waktu belajarnya, dan sebagainya.

Ribet enggak sih kalau kita menerapkan homeschooling? Kalau menurut Mimin itu semua bergantung pada niat dan motivasi orangtua menerapkan sistem pendidikan ini. Karena hal ini juga sangat berpengaruh pada mental anak dan orangtua pelaku homeschooling. 

Dalam kehidupan bermasyarakat di negara kita, masih belum banyak keluarga pelaku homeschooling. Mungkin di beberapa daerah tertentu sudah tersebar bahkan sudah membentuk sebuah komunitas, namun di daerah lain istilah homeschooling masih terdengar asing. Bahkan tak jarang pula lingkungan mencibir para pelaku homeschooling ini. Oleh sebab itulah orangtua hendaknya lebih bijak dalam memilih sistem pendidikan yang akan diterapkan kepada anak-anak. Jika telah memutuskan untuk menerapkan homeschooling, maka siapkan mental dan jawaban yang tepat karena pastilah akan banyak pertanyaan dari keluarga yang lain.

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memutuskan Homeschooling

  1. Siapkan Mental Anak dan Orangtua. Sebelum memulai homeschooling pastikan hal ini sudah dirundingkan dengan si anak sebagai pelaku. Akan lebih baik jika memang ananda yang menginginkan pembelajaran dengan sistem ini. Karena pada praktiknya, banyak sekali yang mempertanyakan bahkan mencibir para homeschooler. So, jika Sobat Pengisah belum kuat mental mending jangan homeschooling dulu, deh.
  2. Kenali Potensi dan Minat Anak. Orangtua yang telah mengenali minat dan bakat anak akan lebih mudah dalam menjalankan homeschooling. Karena ia bisa menentukan dengan tepat keterampilan apa saja yang akan dipelajari oleh si anak.
  3. Tentukan Metode Pengajaran. Orangtua perlu mempersiapkan metode apa yang akan dipakai dalam sistem belajar anaknya. Untuk anak kinestetik, misalnya akan lebih nyaman belajar di luar ruangan dengan mengeksplor olah fisiknya. Jadi, perlu juga memahami gaya belajar anak, ya.
  4. Menentukan Tenaga Pengajar. Orangtua juga harus menginformasikan di awal siapa yang akan menjadi tenaga pengajarnya. Apakah ayah dan bunda secara bergantian, bunda saja ataukah mengambil tenaga pengajar dari luar? Bisa juga menjadwalkan waktu belajar suatu keterampilan di luar. Misal, anak yang sangat aktif bergerak bisa ikut latihan taekwondo atau bagi anak yang suka memanjat bisa mengikuti les panjat tebing dengan guru ahli.
  5. Bergabung Dengan Komunitas Setempat. Di beberapa daerah terdapat komunitas keluarga homeschooling. Dimana dalam komunitas ini mereka saling berbagi ilmu dan bertukar informasi, menyusun kegiatan bersama dan saling membantu untuk mendidik anak-anak bersama. Seperti di Depok ada komunitas K-Super khusus keluarga homeschooler. 
  6. Menguatkan Tekad Mencapai Tujuan. Orangtua yang memutuskan menerapkan homeschooling untuk anak-anaknya tentu mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Ada yang ingin agar anak-anaknya punya banyak waktu untuk fokus menghafal Al-Qur’an, ada pula yang ingin menjaga lingkungan pergaulan anak-anaknya, ada juga yang memang karena prinsip hidupnya bahwa yang bertugas mendidik anak-anak adalah orangtua, dan lain sebagainya.

Maka, jika telah memutuskan homeschooling, setidaknya orangtua dan anak harus bisa konsisten dengan jadwal yang telah ditetapkan. Tentunya agar tujuan yang ada dapat tercapai dengan maksimal. So, siap untuk homeschooling? 

Efektivitas Homeschooling 

Tujuan sudah ada, niat dan motivasi sudah kuat, teamwork sudah terbentuk, tapi yang terpikirkan sekarang adalah keefektifannya. Efektif enggak, sih homeschooling ini?

Sejatinya, efektif tidaknya suatu metode, bergantung pada pelaku tersebut. Jika hal-hal yang tertulis di atas sudah diperhatikan dan dijalankan, pun metodenya cocok dengan sang anak sebagai objek pembelajaran, maka hasilnya bisa efektif.

Kembali lagi ke tujuan awal, untuk apa orangtua memilih homeschooling sebagai metode yang digunakan untuk pembelajaran sang anak? Karena setiap metode yang ada pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Tinggal kita menyesuaikan sesuai kebutuhan anak. Misal, Ibu A dan anak sepakat untuk homeschooling karena si anak sudah terbiasa diajari oleh ibunya sendiri di rumah dari kecil. Ia enggan belajar di sekolah karena sudah nyaman dengan cara mengajar sang ibu. Mereka belajar konsep matematika dasar, menulis, menggambar, membaca, dan lain-lain di rumah. Setiap sekali dalam sepekan mereka akan berkunjung ke perpustakaan, pasar, stasiun dan tempat umum lain untuk belajar. Karena sejatinya belajar bisa dilakukan dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja, bukan?

Akan berbeda dengan kasus Ibu B. Sang Ibu ingin anaknya homeschooling namun sang anak yang suka bergaul dan punya banyak teman ingin sekolah di sekolah formal. Meskipun sekolah dengan banyak pelajaran dan tugas namun si anak tetap enjoy dan mampu beradaptasi sehingga dapat meraih prestasi. So, tidak ada yang salah dengan ini, bukan?

Karena keefektifan sesuatu akan dapat diukur jika telah dijalankan dalam rentang waktu tertentu. Maka, jika benar-benar ingin mengetahui efektivitas homeschooling, silakan praktekkan di rumah atau berkaca pada keluarga homeschooler. 

So, bagaimana menurut Anda, Sobat Pengisah?

 

NB: Tulisan ini merupakan kolab blog bersama Pasukan Blogger JA putaran kedua dengan bunda Yasinta Astuti, seorang blogger asal Bandung yang juga jago fotografer. Keponih.com adalah salah satu blog yang dikelola oleh beliau yang ketjeh abis.

Ibu dua anak, suka belajar merajut frasa. Senang belajar hal-hal baru. Suka berpetualang, penjelajah dan tak bisa dikekang.

19 Comments

  • Evalina

    Satu contoh keluarga yang berhasil mengadakan homexchool adalah Haji Agus Salim, pahlawan nasional yang menguasai lebih dari 9 bahasa asing dan bahasa daerah

  • Bunda Erysha (yenisovia.com)

    Jangan lupa juga kalau mau homeschooling harus bikin kurikulum sendiri juga ya. Nah anakku Erysha ya Bun masih 3 tahun nih ya. Udah banyak yang nanya, usia berapa dia mau disekolahin. Aku jawabnya nanti usia 5 tahunan. Cuma TKB doang. Jadi dia belajar di rumah dan distimulasi ama aku. Biar dia ga lama prasekolahnya

    Cuma bagi orang awam itu jadi hal yang aneh ya kalau masukin anak nggak dari PAUD atau TKA hihihi. Pdahal menurut bberapa psikolog sebaiknya jngan lama2 di TK nya biar anak nggak bosen belajar. Tpi aku diem aja. Hahaha

  • hani

    Kami mulai pikir-pikir nih tentang homeschooling. Bara kan delay tumbuhkembangnya. Sambil sekarang terus terapi, sambil mulai mencari komunitas sekolah yang cocok untuk Bara.
    Terimakasih sharingnya Mbak…

  • Bety Kristianto

    Bener mba, di Indo kayaknya belum terlalu populer ya Homeschooling ini ya Mba. Aku punya sih beberapa temen yang anaknya ikut HS ini. Waktu itu mereka ikut yang level SD, tapi SMPnya masuk ke sekolah umum.

  • Nurul Fitri Fatkhani

    Sebenarnya untuk home schooling itu butuh persiapan yang matang ya..
    Orang tua harus bisa membuat kurikulum sendiri dan menyediakan sarana untuk menunjang pendidikan dari rumah. Agak berat kalau menurut saya.
    Tapi memang sudah menjadi pilihan masing-masing orang tua ya…ingin yang terbaik untuk anaknya.

  • Dewi adikara

    Memutuskan homescholling itu sebenarnya lebih besar komitmennya ya mbak, karena kita memanage semuanya sendiri seperti kurikulum , managemen waktu bahkan timbulnya perasaan berbeda dg yg lain bila bersosial, untuk itu perlu bergabung dengan komunitas yang sama ya mbak…

  • Nanik K

    Baru tahu tentang detail Home Schooling, nih mbak.
    Ternyata dalam konteks kurikulum pembelajaran orang tua pun punya andil, ya?
    Saya kira program HS dari sekolah tertentu yg berkurikulum, terus gurunya dimandat buat pegang salah satu murid yg memakai program itu.
    Jd orang tuanya, tinggal ngikut jadwal gurunya.
    Ehh saya salah ternyata, ya mbak? 😁

  • Damar Aisyah

    Setuju. Homeschooling harus disikapi dengan bijak. Dalam memutuskan pun nggak boleh ikut-ikutan. Pastikan anak dan orangtua siap.
    Aku sempat kepincut pengin homeschooling. Kemudian kami berunding lagi,ternyata kami memang blm siap. Nice sharing.

  • Dian Restu Agustina

    Saya apresiasi sekali orang tua yang memutuskan sistem home schooling untuk putra putrinya. Karena memang butuh persiapan matang untuk menjalankan.
    Butuh kesiapan mental baik bagi ortu dan anak untuk prosesnya dan penerimaan lingkungan yang bisa jadi menolaknya.

  • Tatiek Purwanti

    Saya selalu salut dengan mereka yang berani mengambil keputusan untuk meng-homeschooling-kan anaknya. Perlu perencanaan matang, percaya diri dan konsisten, sih.
    Saya sendiri walaupun menyekolahkan anak di sekolahnya formal, tetap berprinsip bahwa pendidikan utama dan pertama adalah dari orang tua.
    Nice sharing, Bun:)

  • Afie

    Salam kenal saya Afie (A. Liana) dari Tangerang. Wah menarik sekali homeschooling ini. Karena saya dan suami merasa masih butuh bantuan dalam mendidik anak akhirnya kami pilih sekolah mitra rumah. Jadi orang tua banyak terlibat dalam proses mendidik anak-anak.

    Ada sekolah orang tuanya juga supaya sinkron pendidikan di sekolah dan di rumah. Semoga ini pilihan terbaik buat anak-anak. Aamiiin.

    Visit my web
    //www.alianastory.com

  • erie wede

    Aku dulu pernah punya murid yg bermasalaj,akhirnya orang tuax memutuskan homeschooling..bukannya tambh baik…anaknya malah tmbh parah..untuk memutuskn ikut ndaknya memang butuh analisis yg tepat.

  • Sunarti kacaribu

    Saya setuju aja dengan homeschooling, selagi orang tuanya mampu bertanggung jawab.
    Kalo saya pribadi, belum sanggup untuk melaksanakan homeschooling. Bisa bisa anak anak gak mampu bersisialisasi. Karena dirumah juga gak main ke tetangga. Jadi waktu mereka beradaptasi dengan teman maupun lingkungan hanya di sekolah.

  • Haeriah

    Pernah sih menerapkan homeschooling pada anak2. Namun, ternyata saya kurang telaten. Makanya, salut banget pada orang tua yang bisa menerapkan homeschooling pada anak-anaknya. Apa pun itu, sebagai oramg tua tentu kita menginginkan yang terbaik untuk anak-anak

  • Melina Sekarsari

    Aku pribadi bukan penganut homeschooling untuk anak-anak. Masih menganut paham bahwa anak-anak butuh bermain di luar ruangan. Seperti saat ini kala mereka bebas mau lari-larian atau bermain lumpur. Kalau di rumah, lahan terbatas, qiqiqi …

    Ada teman yang setelah anaknya TK memilih untuk homeschooling saja. Tapi aku masih jauh lah dibandingkan dia yang sangat tekun belajar sebelum kemudian mengajari anaknya. Dia pakai homeschooling yang benar-benar murni ditangani orangtua.

    Apalah aku ini yang masih terpontang-panting antara urusan pekerjaan kantor, domestik, dan anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *